I’m Yours (Nan ne-ggeo-ya)
I’m Yours
(Nan ne-ggeo-ya)
“Ni shi wo de Hangeng ma?”
“Bushi.”
“Bushi.”
- Title : I’m Yours (Nan ne-ggeo-ya)
- Genre : Brothership
- Rating : Fiction T
- Cast : Kyuhyun, Leeteuk, Heechul, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, dan Ryeowook.
- Disclaimer : All them belong to themselves and GOD. I own only the plot.
- Warning : Typos, Geje , If Read Don’t Bash, Jangan meng-copy paste meskipun menyertakan nama. Share saja dalam bentuk link ffn, tidak kurang dari itu
- Summary : Kyuhyun terpukul dengan kepergian Hankyung dan berpikir untuk berhenti. Bagaimana hyungdeul mencegah niat magnae mereka?
“Ni shi wo de Hangeng ma?”
“Bushi.”
“HYUUUNG!!!”
Kyuhyun terbangun dengan tubuh gemetar. Entah
berapa kali ia memimpikan mimpi yang sama. Namun setiap kali mimpi itu datang,
ia tetap saja merasa kepedihan yang besar, yang mendesak air matanya keluar. Ia
bersyukur Sungmin biasa tertidur dalam suasana ramai saat sekamar dengan
Donghae. Meski begitu, Kyuhyun bergegas menghapus butiran bening di pipinya dan
beranjak keluar kamar.
Jam lima pagi. Mata Kyuhyun tanpa sadar terarah ke dapur. Biasanya,
Hankyung selalu menyibukkan diri di sana. Perut namja China itu wajib diisi jam
5 pagi, karena itu Hankyung selalu memasak sendiri.
“Kau mau hyung buatkan sarapan,
Kyuhyunie?”
Kyuhyun menggelengkan kepala, berusaha
mengusir senyum lembut itu dari ingatannya.
Ia membuka botol wine dan menuangnya ke dalam gelas. Pikirannya
menerawang sambil menikmati cairan merah itu, merasakan sensasinya di lidahnya,
merasakan tubuhnya menjadi hangat ketika efek cairan itu mulai bekerja di dalam
tubuhnya.
“…hyunie….Kyuhyunie…”
Perlahan Kyuhyun menengok ke asal suara.
Seorang namja berparas cantik berdiri di dekatnya, lengkap dengan senyum
lembutnya. Entah sudah berapa kali hyung tertuanya itu memanggilnya. Pasti
cukup lama. Kyuhyun bisa melihat dari tatapan khawatir Leeteuk.
“Tumben Teuki hyung sudah bangun. Kita tidak
ada jadwal pagi kan?”
“Hyung ingin melihat keadaan kalian.” Leeteuk
kembali tersenyum.
Sejak peristiwa Hankyung beberapa bulan lalu,
Leeteuk menjadi terlalu cemas dengan mereka semua. Namja itu merasa bersalah
karena tidak mengetahui isi Hankyung dan membantunya mencari jalan keluar yang
lain. Padahal itu hal yang sia-sia menurut Kyuhyun. Jika seseorang menutup
rapat hatinya, seberapa besarpun usaha yang dilakukan orang lain, hanya bisa
menggedor pintu itu dengan keras. Terbuka tidaknya pintu tersebut, tetap
pemilik hati lah yang menentukannya.
Dan saat ini, Kyuhyun ingin menutup kembali
hatinya serapat dahulu. Ia tidak ingin kecewa lagi. Sejak menyadari Hankyung pergi,
kepercayaan yang ia pupuk selama ini terhadap persaudaraan di antara mereka hancur
berkeping-keping. Ia merasa sangat sulit untuk kembali mempercayai perasaan
yang mereka miliki satu sama lain.
“Kyuhyunie, gwenchana?” Leeteuk masih
memandangnya dengan senyum lembutnya. “Kenapa pagi-pagi sudah minum wine?”
Kyuhyun tidak menyahut. Ia hanya
mengembalikan botol wine ke tempatnya, meletakkan gelas di dapur, dan hendak
berlalu masuk ke dalam kamar. Menyadari niat magnae-nya, Leeteuk langsung
menahan Kyuhyun. Pandangan cemasnya semakin terlihat jelas, membuat Kyuhyun
justru merasa kesal.
“Kyuhyunie, kalau ada yang ingin kau keluhkan,
katakan saja. Siapa tahu hyung bisa membantu. Jangan bersikap seperti ini.”
“Bersikap seperti apa, hyung? Aku rasa aku
bersikap biasa-biasa saja.”
“Justru itu yang membuat hyung cemas. Jangan
katakan dugaanku salah, Kyuhyunie. Kau sedang membuat tembok lagi dengan kami.
Bukankah begitu?”
Kyuhyun menatap Leeteuk dengan tajam. Ia sama
sekali tidak menyembunyikan rasa tidak senangnya dengan perhatian Leeteuk.
“Ni shi wo de Leeteuk ma?”
“Mwo?” Leeteuk mengerjap bingung. Wajah
cantik itu menjadi pucat ketika magnae-nya mengukir senyum sinis. Senyum yang
benar-benar sinis seakan mengejeknya.
“Bushi. Zhen de ma?”
Kali ini di balik suara dan wajah sinis itu
terdengar nada getir. Sepasang mata Kyuhyun tampak redup meski hanya sekilas.
Leeteuk bisa melihat luka yang dalam di sana. Sebelum ia sempat mengatakan
apapun, Kyuhyun sudah menepiskan tangannya dan beranjak ke kamar.
“Ni shi wo de Hangeng ma?”
“Bushi. Bushi.”
Kau benar Hankyung hyung…. Kau
bukan Hankyung hyung milikku. Kau adalah milik dirimu sendiri. Semua perhatian
yang kau berikan selama ini, semua itu cuma kepalsuan. Seandainya aku tahu
sejak awal bahwa semua itu palsu, aku tidak akan sesakit ini.
Mungkin hyungdeul yang lain pun
begitu. Semua memiliki satu sama lain hanya supaya Super Junior bisa bertahan.
Tidak lebih dan tidak kurang. Semua bisa melepaskan diri kapan saja dari ikatan
palsu ini jika menginginkannya. Cepat atau lambat semua akan terpisah.
Aku tidak bodoh. Aku tidak akan
mengalami sakit seperti ini untuk kedua kalinya. Aku tak mau mempercayai
perasaan ini lagi. Mulai sekarang, Cho Kyuhyun akan menjaga perasaan dan
dirinya sendiri.
Kyuhyun merebahkan dirinya di kasur, menarik
rapat selimutnya, dan mencoba kembali tidur. Ia tidak menyadari sepasang mata
menatapnya dengan muram.
.
“Terima kasih buat kerjasamanya.”
Kesepuluh namja itu tersenyum dan
membungkukkan tubuh sebagai ucapan terima kasih kepada para kru dan artis
lainnya yang bersama-sama mengisi acara. Mereka berjalan menuju mobil dengan
diam. Tak ada satupun yang bergurau ataupun bercerita untuk membangkitkan mood
member lainnya. Semua merasa lelah dan tertekan.
Sudah tiga bulan sejak Hankyung pergi
diam-diam dan mengajukan gugatan kepada pihak SM. Sejak saat itu mereka tidak
pernah bertemu lagi dengan namja China yang sudah bersama mereka bertahun-tahun
itu. Jangankan untuk marah; Untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal pun
mereka tidak memiliki kesempatan. Semua komunikasi diputus baik dari pihak SM
maupun dari Hankyung. Semua email dan telepon mereka tidak pernah dibalas.
Menghilang begitu saja.
Hal ini membuat mereka semua tertekan dan
mulai meragukan perasaan yang kuat yang selama ini ada di tengah mereka. Apa
yang mereka jalani selama beberapa tahun bersama Hankyung seperti tak ada
artinya dan menguap begitu saja dengan cara Hangkyung pergi. Mereka berharap
setidaknya Hankyung mengatakan sepatah dua patah kata, seperti yang terjadi
pada grup sahabat mereka DBSK. Tapi harapan tinggal harapan. Bahkan pesan di
media elektronik pun tidak ada.
“Kyuhyunie,
kau tertidur?” Leeteuk mencoba mengajak berbicara magnae-nya yang duduk di
sebelahnya. Kyuhyun tidak menyahut. Kedua matanya tertutup dan sepasang
earphone menyumbat telinganya. Leeteuk ingin mengelus rambut dongsaeng
terkecilnya itu, namun kembali menarik tangannya. Ia tidak ingin membuat
Kyuhyun terganggu.
Sejak kepergian Hankyung, Kyuhyun menjadi
pendiam. Seperti yang Zhoumi ceritakan kepadanya, Kyuhyun dan Donghae jatuh
sakit dan mengalami demam tinggi begitu tahu Hankyung pergi. Mereka tidak bisa
mencari, bahkan jika diperbolehkanpun, tak ada yang tahu ke mana mencarinya. Hankyung
tidak kembali ke rumah. Kedua orang tua Hankyung tidak mengatakan informasi apapun.
Teman-teman dekat Hankyung tidak bisa dihubungi.
Tekanan semakin besar ketika member SJ M
diminta kembali ke Korea tanpa Hankyung. Dan mereka semua terpukul ketika
gugatan Hankyung dilayangkan. Namun jadwal tetap harus berjalan. Mereka
berusaha menyembunyikan perasaan luka mereka di balik senyum dan tawa.
‘Tak seorang pun fans yang boleh melihat kita
bersedih’. Leeteuk mengatakan hal itu setiap mereka melakukan persiapan di pagi
hari. Ia tahu itu hal yang berat. Namun
sebelum semua jelas, ia tak mau menyeret ELF ke dalam masalah mereka. Leeteuk
berharap Hangeng akan berubah pikiran.
Member SJ M kembali ke Shenzhen pada tanggal
2 Januari untuk mengisi acara tahun baru yang diadakan Hunan TV. Seperti biasa,
jadwal ketat membuat mereka harus berangkat begitu selesai mengisi acara MBC Gayo Daejun di Korea,
tanpa sempat beristirahat.
Tapi bukan dukungan yang mereka dapat dalam
keadaan lelah dan terpukul. Para fans di China justru melontarkan kemarahan
mereka dengan tampilnya SJ M tanpa Hankyung di acara tersebut. Mereka
beranggapan SJ M telah merelakan Hankyung begitu saja sehingga tampil tanpa sang
leader.
Henry dan Zhoumi kembali mendapat penolakan
keras. Siwon yang sedang tertekan, kali itu tidak bisa menahan kesabarannya
akibat semua perlakukan yang mereka terima dari Hankyung, SM, juga para fans.
Namja yang selalu sabar itu berbalik menegur ELF yang berseru meminta Zhoumi
dan Henry turun.
Di Super Show Beijing tanggal 23 Januari pun
terjadi hal yang sama. Saat lagu Blue Tomorrow SJ M dinyanyikan, para fans
menutupi setiap part Zhoumi dan Henry dengan meneriakan nama Hangeng. Teriakan
itu begitu kuat sehingga Zhoumi dan Henry harus mati-matian mempertahankan
suara mereka menghadapi perlakuan tersebut. Member yang lain tampak marah
melihat ulah fans yang seperti itu, namun mereka tetap mencoba memberikan yang
terbaik, berusaha mengubur perasaan mereka dalam-dalam.
Lamunan Leeteuk buyar ketika kepala Kyuhyun
rebah ke bahunya. Ia merasa sedih sekaligus bersyukur karena Kyuhyun
benar-benar tertidur, bukan pura-pura tidur seperti dugaannya semula. Perlahan
dirangkulnya bahu Kyuhyun agar kepala magnae-nya bisa bersandar di dadanya.
Mata Leeteuk menjadi panas, menyadari tubuh Kyuhyun yang kini semakin kurus.
Bahunya terasa begitu ringkih sehingga ia merasa harus
berhati-hati saat merangkulnya.
Ia tahu, Kyuhyun yang cukup dekat dengan
Hankyung adalah yang paling sedih dari mereka semua. Namun Kyuhyun mencoba
bersikap dewasa, melakukan semua jadwal dengan baik, tersenyum dan tertawa di
saat yang lain bergurau, tapi Leeteuk justru mengkhawatirkan hal itu. Hati
Kyuhyun kembali seperti dulu, bisa dilihat namun tidak bisa disentuh.
Begitu turun panggung dan di dorm, Kyuhyun
berubah menjadi pendiam. Ia hanya sibuk dengan PSP dan semua gadgetnya.
Sesekali dongsaengnya itu berpamitan untuk mengunjungi Changmin sahabatnya yang
sedang terpuruk oleh status DBSK.
“Teuki hyung, aku ingin berada di
panggung sepanjang lagu Don’t Don.”
“Mwo?”
Saat SS2 Beijing itu Leeteuk benar-benar
terkejut. Selama ini mereka tidak melatih Kyuhyun melakukan dance dan
penampilan untuk lagu tersebut. Namun Kyuhyun meminta hal itu saat mereka sudah
yakin Hankyung tidak juga muncul di SS2 Beijing. Mereka sempat berharap
Hankyung berubah pikiran dan bergabung bersama mereka di sana.
“Tapi…tapi kami tidak menyiapkan
apapun.”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin
berada di atas panggung. Aku mohon, hyung. Kali ini saja. Kumohon.”
“Hyung tidak bisa, Kyuhyunie. Itu
semua untukmu sendiri.”
“Tapi, hyung…”
“Baiklah, kau boleh ikut sejak
awal, tapi begitu selesai melakukan part-mu, kau tetap harus turun, arrachi?”
“Kenapa tidak tinggal saja?”
“Kyuhyunie, tolong jangan membantah
lagi. Hyung sudah lelah dengan masalah Kangin-ah, Kibumie dan Hankyung-ah.
Mengertilah sedikit!”
Saat itu juga Leeteuk menyesali kemarahannya.
Tapi ia benar-benar sedang tertekan. Ia tertegun saat Kyuhyun tidak
membalasnya. Magnae-nya itu hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Seperti yang ia duga, Kyuhyun lebih banyak berdiri
diam di awal lagu Don’t Don hingga part-nya tiba. Sesekali saja magnae-nya mengikuti
gerakan. Namja itu lebih banyak melayangkan pandangan matanya mencari sosok
hyung China nya di antara para penonton.
Di lagu Shining Star, Leeteuk tidak bisa
menahan perasaannya lagi. Meski ia berpesan untuk menyembunyikan hal itu; Meski
mereka sudah berhasil tertawa dan bergurau di hadapan penonton; Namun saat VCR
diputar…saat Yesung mengucapkan ‘wo ai ni men’ yang seharusnya adalah giliran Hangkyung,
namun telah dihapus, Heechul menangis dengan keras. Melihat hal itu Leeteuk
tidak dapat menahan perasaannya lagi.
“Hecchul! Uljima! Uljima!”
Teriakan dan dukungan dari para fans akhirnya
muncul.
Saat melihat pemutaran ulang konser, darah
Leeteuk seakan membeku. Ia dan member lain semua menangis. Namun Kyuhyun sangat
tenang. Begitu tenang hingga terasa mengerikan.
“Hyung sudah lelah dengan masalah
Kangin-ah, Kibumie dan Hankyung-ah. Mengertilah sedikit!”
Leeteuk menutup mulutnya, menyadari apa yang
tengah dilakukan Kyuhyun. Ia kali ini benar-benar takut akan kembali kehilangan
salah satu dongsaengnya. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Jika Kyuhyun keluar
atau menghilang, mereka akan semakin berantakan. Magnae adalah magnae.
Bagaimanapun usil dan tajamnya mulut Kyuhyun, semua tahu Kyuhyun merupakan
pelekat mereka semua. Eunhyuk mengumpamakan sang magnae seperti harta mereka
yang akan mereka jaga baik-baik. Bagaimana jika Kyuhyun keluar dari SJ? Dengan kemampuan
keuangannya, Cho Younghwan sanggup membayar denda seandainya Kyuhyun berhenti
sebelum kontrak selesai. Leeteuk menggeleng keras, mencoba membuang pikiran
buruk tersebut.
SM akan mengumumkan hiatusnya Kibum secara
resmi 2 bulan lagi. Leeteuk dan member lain kecuali Kyuhyun sudah mengetahuinya.
Namun Leeteuk meminta member lain untuk
tetap menutup mulut mereka. Ia tidak ingin Kyuhyun kembali terpukul dengan
berita itu. Meski Kibum sudah mempersiapkan mereka sejak lama, namun semua
masih tidak rela melepaskan Kibum untuk berkonsentrasi di bidang akting. Selama
ini saja Donghae selalu merindukan kehadiran Kibum di dorm. Begitupula mereka
semua. Tapi Leeteuk sudah bertekad akan melepaskan Kibum. Ia tidak ingin
kejadian Hankyung terulang. Mereka sudah kehilangan Kangin untuk dua tahun,
Heechul pun beberapa bulan ini terus mengurung diri di kamar. Hanya untuk Super
Show saja Heechul tampil. Leeteuk merasa lelah dan tertekan dengan semua
keadaan ini.
Aku harus bertahan. Jika aku
jatuh, bagaimana dengan dongsaeng-ku yang lain?
Leeteuk mengamati wajah Kyuhyun yang
tertidur. Uri magnae, selama ini kau
selalu menjadi penyemangat kami. Melihatmu selalu mengingatkan kami tentang
arti sebuah kerja keras. Cepatlah bangkit. Hyung tidak kuat jika harus menahan
semua ini sendirian. Kembalilah menjadi uri Kyuhyunie yang ceria, yang selalu
berkeliaran di dorm dengan ulah usil dan tendangannya. Kau yang sekarang ini
tidak pernah tertawa dari dalam hati…
“Hyung, kita sudah sampai.” Shindong
memberitahu ketika melihat Leeteuk masih berdiam diri merangkul Kyuhyun yang
tertidur. Leeteuk meringis melihat beberapa pasang mata dongsaengnya memandang
dengan curiga. “Kalian turunlah dahulu. Aku akan membangunkan Kyuhyunie.”
Semua member sudah kelelahan. Tidak ada yang
membantah saran Leeteuk. Shindong dan Sungmin bergegas menyusul Heechul yang
sudah berjalan ke arah lift sedari tadi. Heechul masih saja berdiam diri, tidak
berinteraksi dengan siapapun kecuali di atas panggung. Eunhyuk, Donghae, Yesung,
dan Ryeowook yang berada di mobil lain juga bergegas meninggalkan area parkir.
“Kyuhyunie, bangunlah. Kita sudah tiba di
dorm.” Leeteuk menepuk pipi Kyuhyun pelan. Mata dongsaengnya itu mengerjap
beberapa saat. Masih dengan kepala bersandar di dada Leeteuk, Kyuhyun memandang
sekeliling sambil mengumpulkan kesadarannya. Melihat hal itu, Leeteuk hanya
tersenyum geli. Wajah Kyuhyun saat terbangun sangat lucu baginya. Ia menunggu
dengan sabar hingga sang magnae benar-benar tersadar.
“Ah….” Kyuhyun segera mengangkat kepalanya
ketika mengetahui ia sedari tadi bersandar
pada Leeteuk. Untuk sesaat senyum tersipu menghiasi wajahnya. Namun senyum itu
tidak melebar lagi, melainkan menghilang. Kyuhyun hanya mengangguk dan kemudian
turun dari mobil.
“KYUHYUNIE!”
Leeteuk terkejut sendiri mendengar dirinya
berteriak memanggil nama Kyuhyun. Namun saat melihat punggung Kyuhyun menjauh,
ia benar- benar merasa akan kehilangan. Dan ketakutan itu mendorongnya untuk
berteriak begitu kencang, sehingga sepasang alis Kyuhyun saling bertaut.
“Kyuhyunie, gwenchanayo?” Leeteuk lagi-lagi
merutuki otaknya yang tidak mampu memikirkan pertanyaan lain. Tapi sungguh,
hanya hal itu yang ingin ia tanyakan saat ini. Ia merasa Kyuhyun semakin
menghilang, meski secara sosok, sang magnae selalu bersama dengan mereka.
“Ni shi wo de Leeteuk ma?”
“Mwo?!”
Lagi-lagi Leeteuk merasa kebingungan
mendengar pertanyaan Kyuhyun. Tapi kali ini Kyuhyun tidak tersenyum sinis. Ia justru
tersenyum sedih dan kemudian berjalan menjauh. Ia tidak menengok sedikitpun
meski Leeteuk memanggilnya beberapa kali sebelum akhirnya menyerah.
.
Suasana dorm lantai 11 tampak lengang. Member
yang tinggal di lantai 12 langsung menuju dorm mereka. Yesung dan Ryeowook pun
sudah beristirahat di dalam kamar. Semua merasa sangat kelelahan dengan
berbagai acara yang harus mereka datangi, promo Sorry Sorry, dan juga Super
Show 2 yang masih akan berlangsung hingga bulan April.
Perombakkan koreo yang terjadi beberapa kali
dengan adanya kasus Kangin, cederanya Kibum dan kemudian perginya Hankyung,
benar-benar menuntut mereka habis-habisan. Namun Sungmin merasa lega karena
semua berjalan baik di atas panggung sampai saat ini, meski di dorm keadaannya
jauh lebih kacau.
Heechul masih mengurung diri. Beberapa kali
mereka mencoba menariknya kembali namun belum berhasil. Dan Kyuhyun pun
melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Jika Heechul menyembunyikan
sosoknya, Kyuhyun menyembunyikan perasaannya. Sungmin beberapa kali memergoki
Kyuhyun bermimpi buruk, dan ia tahu siapa yang hadir dalam mimpi magnae-nya
itu.
Sungmin tersenyum ketika melihat Kyuhyun
akhirnya masuk menyusul mereka semua. Ia nyaris berpikir Kyuhyun ikut bersama
Leeteuk dan Eunhyuk ke SUKIRA.
“Kyuhyunie, hyung ingin membuat ramen. Kau
mau?”
Kyuhyun menggeleng. “Aku lelah. Aku ingin
tidur saja, hyung.”
Sungmin hanya bisa menghela napas sambil memandang
Kyuhyun yang menjauh.
.
“Hyukie, kau bisa bahasa mandarin,
bukan?” Leeteuk bertanya saat SUKIRA tengah memutarkan musik dan mikrofon sudah
dimatikan.
“Sedikit, hyung. Waeyo?”
Melihat Eunhyuk memandangnya dengan
penasaran sambil menyeruput susu strawberry, Leeteuk menjadi ragu. Ia takut
Eunhyuk akan menggodanya. Namun saat teringat senyum sedih Kyuhyun tadi, ia
berusaha menyingkirkan perasaan tersebut.
“Apa artinya: ni shi wo de Leeteuk
ma?”
“Mwo?” Eunhyuk nyaris menyemburkan
susu yang diminumnya karena tertawa, apalagi melihat Leeteuk memandangnya dengan pandangan bingung yang sangat
lucu. Eunhyuk semakin tergelak ketika Leeteuk memajukan bibirnya dengan kesal.
“Siapa yang mengatakan itu kepada hyung? Cantikkah?”
“Kenapa kau bertanya begitu?”
Leeteuk semakin kebingungan apalagi Eunhyuk mulai mengeluarkan suara-suara
menggoda.
“Ayolah, hyung… Jangan pelit begitu.
Siapa yang bertanya padamu?”
“Uri Kyuhyunie.”
“Uri Kyuhyunie?” Tawa Eunhyuk
langsung menghilang seketika. Dancing machine SJ itu menegakkan posisi duduknya
dengan wajah tegang.
“Hyukie-ah… Jangan membuatku takut
dengan sikapmu. Memangnya kenapa jika Kyuhyunie yang bertanya hal itu?”
“Aku akan menjawabnya setelah lagu
selanjutnya.”
Leeteuk ingin berteriak kesal saat
itu, namun ia sadar lagu yang mereka putar akan berakhir. Ia terpaksa menahan
rasa penasarannya apalagi Eunhyuk tampak mencari sesuatu di dalam laptop yang
dibawanya dengan wajah serius.
.
Sungmin merasa lega setelah perutnya
terisi penuh oleh ramen hangat. Ia meregangkan tubuh sejenak untuk
menghilangkan penat. Jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam.
“Sebentar lagi Teuki hyung dan
Hyukie pulang dari SUKIRA. Sebaiknya aku bersiap tidur.”
Namja itu mengambil gelas di dapur
dan mengisinya dengan air putih. Ia selalu meminum air putih setiap pagi, sebelum
turun dari tempat tidur. Ia percaya hal itu salah satu cara menjaga kesehatan
yang baik.
Sungmin tersenyum melihat pintu
kamarnya terbuka. Biasanya Kyuhyun selalu menutup pintu bahkan menguncinya
setelah Sungmin masuk. Kyuhyun tidak mau terbangun dengan Yesung sudah berada
di tempat tidurnya. Yesung memang memiliki kebiasaan pindah di malam hari untuk
tidur bersama member yang lain.
Langkah Sungmin terhenti ketika
melihat Kyuhyun duduk di sisi kasur masih dengan baju lengkap. Bukan itu yang
membuatnya melambatkan langkah. Walaupun hanya dari cela pintu, tampak jelas
Kyuhyun sedang mengusap air matanya yang jatuh, meski tak ada isakan sedikitpun
yang terdengar.
Apa
yang sebaiknya aku lakukan? Berpura-pura tidak tahu atau sebaliknya?
Sungmin terdiam sambil menimbang.
Matanya tak lepas mengamati sang magnae yang masih sesekali menghapus air
matanya yang turun. Tapi gerakan itu semakin jarang, menandakan Kyuhyun mulai
tenang.
Andwae!
Aku harus memergokinya sebelum Kyuhyun kembali memasang topeng. Hal ini harus
dibereskan sekarang juga.
“Kyuhyunie, kau menangis?”
Kyuhyun nyaris terlonjak saat
Sungmin memasuki kamar dengan langkah lebar. Setelah meletakkan gelas di atas
nakas, Sungmin mendekatinya.
“Jangan sembunyikan lagi.…”
Sungmin menahan tangan Kyuhyun yang hendak
menghapus air matanya. Ketika Kyuhyun melemparkan pandangan protes, Sungmin
tersenyum dan menghapus air mata yang mengalir di pipi dongsaengnya itu dengan
lembut.
“Berterus teranglah pada hyung, Kyuhyunie.
Jangan seperti ini terus.” Sungmin duduk di sebelah Kyuhyun dan merangkul
bahunya dengan lembut. Ia menunggu hingga Kyuhyun menjadi tenang dan nyaman
bersamanya.
Jangan berbuat baik kepadaku,
Sungmin hyung. Jebal. Aku tidak mau merasakan sakit seperti itu lagi.
Sungmin terkejut melihat perkiraannya
meleset. Kyuhyun bukan semakin tenang, namun semakin gelisah. Dongsaeng-nya itu
mulai duduk sambil memeluk lututnya sendiri. Kyuhyun tampak mengernyit
kesakitan.
“Kyuhyunie, gwencahana? Mana yang sakit?
Kyuhyunie!” Sungmin mengguncang pelan bahu Kyuhyun untuk meminta perhatiannya.
Namun Kyuhyun hanya meringis sambil menggelengkan kepala.
“Aku lelah, hyung…. Aku ingin pulang….”
“Pulang? Lalu… jadwal kita…?”
Kyuhyun tidak menjawab. Ia mulai merebahkan
tubuhnya di kasur, masih dalam posisi meringkuk. Wajahnya kembali mengernyit
kesakitan. Sungmin mencoba memijat kaki dan tangan dongsaengnya untuk meredakan
rasa sakit itu, meski ia tidak tahu bagian mana yang sakit. Ia juga sibuk
menggosok punggung Kyuhyun agar hangat.
“Sakit…semuanya sakit…” rintih Kyuhyun sambil
tetap meringkuk. “Aku ingin pulang, hyung… Aku tidak mau mengikuti jadwal
apapun lagi…. Aku ingin pulang….”
Beberapa saat mencoba membujuk Kyuhyun,
Sungmin mulai merasa putus asa. Apapun yang ia katakan, Kyuhyun hanya
mengulang-ulang semua kalimat tadi. Ia sadar, Kyuhyun bukan saja sakit secara
fisik, namun pikiran dan perasaannya sudah lelah dengan semua tekanan yang
mereka terima tiga bulan ini. Itu bukan sesuatu yang baik mengingat
satu-satunya jalan adalah melepaskan Kyuhyun agar ia bisa merasa lega seperti
Hankyung dan Kibum.
Apakah kami harus kehilangan
seorang lagi? Bahkan Heechul hyung masih seperti itu. Aku harus memberitahu
Teuki hyung.
Sungmin meninggalkan Kyuhyun dan menelepon
dari ruang tamu. Ia sedang menceritakan semua perkataan Kyuhyun dan juga
kekhawatirannya pada Leeteuk ketika Yesung berdiri di luar pintu kamar dan
menyimak semuanya.
“Pantas aku merasa tidak tenang,” gumam
Yesung begitu Sungmin meletakkan gagang telepon. Sungmin hanya bisa tersenyum
menanggapi hyungnya yang berintuisi kuat itu.
.
Heechul berbaring di tempat tidur dengan mata
menerawang ke langit-langit kamar. Ia tidak bisa berpikir tentang apapun.
Pikirannya sekosong perasaannya. Setiap memandang kasur Hankyung, juga
barang-barang sahabatnya yang tertinggal, ia merasa sangat sakit. Hankyung
sudah membawa barang-barangnya sedikit demi sedikit ke dorm SJ M. Meski begitu,
masih ada separuh barangnya di sana bahkan di dorm SJ M.
“Hankyung-ah…, aku merasa seperti
barang-barang tidak berharga itu, yang kau tinggalkan begitu saja tanpa
mengucapkan pesan apapun.”
Heechul menarik napas panjang. Ia tengah berpikir
untuk meninggalkan dorm terutama kamar yang penuh kenangan menyakitkan itu. Ia
sudah memikirkannya ketika Kyuhyun membantu Changmin pindah dari dorm
sebelumnya ke sebuah apartemen kecil yang dihuni Changmin bersama Yunho. DBSK
tidak lagi menempati dorm mereka yang berbeda tower dengan dorm SJ.
Kadang orang harus pergi dari
tempat yang penuh kenangan pahit untuk bisa melupakannya. Bukankah itu hal yang
baik? Tapi rasanya itu tidak cukup. Apakah aku perlu meninggalkan Super Junior
juga?
TOK. TOK. TOK.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan
Heechul.
“Pergi! Aku tidak ingin bicara dengan
siapapun!!!”
“Hyung, ini aku Eunhyuk.”
“PERGI!” Heechul menghardik lebih keras.
Selama ini ia berhasil mengusir semua member termasuk Leeteuk dengan
hardikannya. Tapi suara ketukan halus di pintu, membuatnya sadar bahwa kali ini
kepala dongsaengnya terbuat dari batu.
“YA! HYUKIE! KAU MAU AKU HAJAR?”
Heechul baru saja hendak mendengus lega
karena tidak terdengar suara-suara lagi dari balik pintu. Namun ia terbelalak
saat Eunhyuk dengan berani membuka pintu kamarnya. Namja cantik sekaligus tampan itu langsung bangkit dengan gusar,
bersiap menghajar Eunhyuk yang sudah berbuat lancang.
“Hyung….Kyuhyunie…Kyuhyunie….” Dongsaeng-nya
yang terkenal mudah menangis itu, kini benar-benar menangis keras di
hadapannya, dengan wajah yang memerah. Sepertinya Eunhyuk sudah menangis
semenjak tadi. Hal itu membuat Heechul mengurungkan niatnya. Namun Heechul
sedang ingin sendiri, meratapi dirinya yang sudah gagal menjadi sahabat untuk
Hankyung.
Heechul kembali berbaring di tempat tidur,
dengan tubuh membelakangi Eunhyuk. Ia tidak berucap apapun dan memejamkan matanya. Ia berharap Eunhyuk
akan segera pergi. Heechul yakin, jika magnae mereka bermasalah, banyak yang
akan menanganinya. Mereka tidak membutuhkannya. Sama seperti Hanyung yang tidak
menjadikannya tempat berbagi beban.
“Hyung, jangan mengurung diri terus. Kami
sedih melihatmu seperti ini.”
“Ck, jangan berpura-pura, Hyukie. Aku ini
hanya hyung yang egois, pemarah, dan suka seenaknya sendiri. Kalian tidak
membutuhkanku. Aku sedang berpikir, aku akan
keluar dari tempat ini, juga dari Super Junior.”
“Hyung!” Eunhyuk terkejut mendengar kata-kata
Heechul, namun ia tidak bisa melihat raut wajah Heechul yang masih saja
membelakanginya. “Kenapa hyung mengatakan hal itu? Tidak cukupkah kita
kehilangan Kangin hyung, Hankyung hyung, dan sebentar lagi akan melepaskan
Kibumie untuk bersolo karir?”
“Kibumie sejak tahun lalu sudah vakum,
bukan?”
“Ne. Tapi pihak managemen akan mengumumkan
secara resmi selesai SS2 nanti. Pasti
akan terjadi guncangan bagi SJ dan ELF. Kami membutuhkanmu, hyung. Tolong
jangan pergi.”
Heechul mendengus keras, namun tetap menatap
dinding kosong di hadapannya. “Sahabatku saja tidak memerlukanku, apalagi
kalian?”
“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku yakin,
suatu saat kita akan bisa menghubungi Hankyung hyung dan dia akan menjelaskan
semuanya. Meski tidak secara terbuka, aku yakin dia akan menjelaskan secara
langsung kepada Heechul hyung.”
Heechul terdiam. Sedikit banyak ia pun
memikirkan hal itu. Hankyung yang ia kenal adalah namja yang baik hati, lembut
dan sopan. Pasti ada alasan kuat yang membuatnya berbuat nekad seperti itu. Ia
yakin Hankyung akan menghubunginya cepat atau lambat, apalagi situasi saat ini
masih panas.
“Hyung, meski kau tidak pandai menyanyi
ataupun dance, tapi kami tidak bisa bertahan tanpamu, hyung. Jebal….”
Heechul berbalik, bukan karena Eunhyuk mulai
terisak lagi, namun karena merasa kesal dengan kata-kata dongsaeng-nya.
“Ya! Hyukie! Sejak kapan kau ketularan uri
magnae eoh?! Kau ini membujuk atau mengejek?!”
Suara tertawa dari mulut pintu membuat
keduanya menoleh. Shindong tergelak melihat Heechul memarahi Eunhyuk yang menangis
sambil termangu keheranan, tidak mengerti apa yang salah dari kata-katanya.
“Ayolah, hyung, yang Hyukie katakan benar.
Kami membutuhkan Heechul hyung. Aku yakin, Teuki hyung juga membutuhkan kita
semua saat ini. Ini saat yang sulit. Kita harus semakin erat satu sama lain.”
Heechul tengah mencerna kata-kata Shindong
ketika Donghae masuk dengan semangkuk ramen yang masih mengepul. Salah satu
dongsaeng kesayangannya itu tersenyum manis sambil meletakkan ramen tadi ke
atas meja.
“Aku khusus memasak ini untuk Heechul hyung,
ketika melihat Hyukie berhasil masuk dan
tidak ditendang keluar.” Donghae tertawa lebar saat Heechul membelalakkan
matanya, sementara Eunhyuk dan Shindong mati-matian menahan senyum.
“Kajja, hyung. Makanlah, lalu kita lihat
bagaimana kondisi Kyuhyunie. Teuki hyung sedang berbicara dengannya berdua.”
Heechul duduk di kursi, menatap ramen panas
itu dan mulai mengaduknya. Uap yang hangat menerpa wajahnya. Ketika ia
menjumput ramen itu dan mulai memakannya, tidak hanya tubuhnya yang terasa hangat,
namun hatinya juga terasa hangat.
Heechul pabo! Selama ini kau
hanya melihat satu orang saja. Mengikat dirimu begitu kuat kepada sosok itu. Padahal
banyak dongsaeng-mu yang lain yang menyayangimu dan selalu berusaha
memperhatikanmu.
“Hyung, gwenchana?” Shindong, Eunhyuk dan
Donghae serempak bertanya ketika tiba-tiba Heechul menitikkan air mata.
“Aniyo….ini karena uap ramen yang terlalu
panas,” bantah Heechul sambil menghapus air matanya. Ia memandang ketiga
dongsaeng-nya yang tampak termangu keheranan. “Ya! Awas kalau kalian berani mentertawakanku!
Ini karena uap ramen tahu! Uap ramen!”
Heechul hanya bisa pasrah saat ketiganya
tersadar dan mulai mentertawakan dirinya.
.
“Lama sekali. Apakah Teuki hyung berhasil
membujuknya?” Siwon menghentikan langkahnya yang sedari tadi bergerak gelisah,
menatap koridor menuju kamar Kyuhyun dan Sungmin. Sungmin masih berdiri di
ujung koridor, supaya tidak ada member yang berusaha masuk. Perhatian mereka
terhadap Kyuhyun sangat besar, namun Sungmin tidak ingin upaya Leeteuk membujuk
Kyuhyun gagal karena terganggu.
“Sebaiknya kita menunggu sambil meminum teh
hangat ini,” kata Ryeowook. Ia menghidangkan beberapa cangkir teh di atas meja.
Ia juga menyediakan sepiring biskuit untuk mereka santap sebagai cemilan.
“Ryeowookie, aku tidak tahu bagaimana jika
tidak ada ‘eomma’ sepertimu di dorm ini,” gumam Shindong tulus. Ia, Donghae dan
Eunhyuk berhasil membujuk Heechul keluar kamar. Kini mereka semua menunggu
Leeteuk dan Kyuhyun.
“Kita ini besar bersama dan jauh dari
keluarga. Sudah tugasku untuk menjaga hyungdeul dan dongsaengdeul tetap merasa
di rumah.” Ryeowook menggigit bibirnya pelan, menatap cemas ke arah koridor
yang menuju kamar Sungmin dan Kyuhyun. “Tapi sepertinya, bagi Kyuhyunie hal ini
belum cukup.”
“Aniyo.” Sungmin tersenyum, mencoba
menenangkan Ryeowook. “Ia hanya sedang terpuruk dan kehilangan pegangan. Dia
tidak pernah bercerita tentang perasaannya, hingga semua terasa menyesakkan.”
“Ne. Jadwal kita yang sangat padat dan semua
tekanan ini membuat kita semua lelah. Apalagi bagi Kyuhyunie yang tubuhnya
tidak seperti kita. Wajar ia merasa kesakitan.” Donghae memandang member
lainnya dengan sedih. “Aku sendiri, setiap menyanyikan lagu Shining Star saat
konser, tidak bisa menahan perasaan sesak ini. Aku selalu menangis. Tapi
Kyuhyunie selalu berhasil menahan semua itu di atas panggung.”
“Ne, cuma dia yang berhasil tidak menitikkan
air mata di atas panggung.” Yesung bergumam. Ia menghela napas, beranjak ke
dekat Sungmin, dan menatap pintu kamar yang terdapat di ujung koridor. “Pasti
sangat berat bagi Kyuhyunie. Semoga Teukie hyung berhasil membujuknya.”
.
Leeteuk masih duduk sambil berdiam diri di
dekat Kyuhyun yang meringkuk di atas tempat tidur. Tanpa bicara ia terus mengelus rambut magnae-nya dengan
perasaan sedih. Ia teringat percakapannya di SUKIRA sebelum Sungmin
meneleponnya.
“Ni shi wo de Leeteuk ma? Jika Kyuhyunie
menanyakan hal itu, artinya dia bertanya apakah Teuki hyung adalah miliknya.”
“Miliknya?” Wajah Leeteuk langsung memerah.
“Hyungdeul is mine?”
“Ne. Semacam itu.” Eunhyuk mengangguk. Wajahnya
sama sekali tidak tersenyum. Dongsaeng-nya itu memutarkan sebuah acara SJ M
yang Leeteuk tahu hanya beberapa hari direkam sebelum Hankyung pergi. Di acara
itu, semua member SJ M diminta menuliskan pertanyaan yang ingin mereka tanyakan
kepada member lain. Eunhyuk memutar hingga bagian Kyuhyun tiba.
Pembawa acara membacakan apa yang Kyuhyun
tulis, sementara Kyuhyun sedikit tersipu.
“Gui Xian punya sesuatu yang ingin ditanyakan
kepada Hangeng. “ Patty Hou mulai membacakan. “Ni shi wo de Hangeng ma? Kau
bertanya apakah Hangeng adalah milikmu?”
“Aku milik semuanya,” kata Hankyung sambil
tertawa, sementara Kyuhyun ikut tertawa kecil di sebelahnya. Tapi keduanya
tidak saling memandang. “Aku milik kalian semua.”
“Mengapa?” tanya Kyuhyun yang mengerti
kalimat jawaban Hankyung. Kali ini ia memandang hyung-nya itu sambil
mengembangkan smirk-nya, sementara Hankyung hanya tersenyum sambil menundukkan
wajahnya.
“Aku menanyakan hal itu karena aku sering
menanyakan ‘apakah dia adalah Hangkyung-ku’ untuk menggodanya.” Kyuhyun mencoba
menjelaskan, sementara Hankyung masih tidak memandang ke arahnya. “Dia selalu
menjawab ‘bushi…bushi’….”
“Kalau begitu, coba kau tanyakan lagi
sekarang,” kata Patty Hou membesarkan hati Kyuhyun.
“Ni shi wo de Hangeng ma?” Kyuhyun bertanya
sambil memandang ke arah Hankyung.
“Bushi.” Hankyung menjawab dengan tegas
sambil tersenyum, namun tetap tidak memandang Kyuhyun. Kyuhyun, Patty Hou, juga
member SJ M lainnya tertawa mendengar jawaban yang tegas dan cepat itu.
“Hangeng, mengapa ia menanyakan hal ini dengan
kalimat seperti ini, itu karena ia sangat menyayangimu. Bukankah begitu,
leader?” Patty Hou kembali bertanya.
“Tidak. Tidak begitu.” Hankyung menggeleng.
Leeteuk mengamati dengan jelas, Kyuhyun tidak
lagi memandang ke arah Hankyung. Meski ia tersenyum, tampak sekali Kyuhyun
terluka.
Beberapa waktu sebelum Hankyung pergi, Hankyung
memang berubah menjadi pendiam, tidak ingin bicara, tidak bersemangat melakukan
apapun. Bahkan Kyuhyun dan Donghae yang selalu mencoba membuat Hankyung
tersenyum, mulai tidak bisa menyentuh hati namja itu.
“Sepertinya, uri magnae benar-benar terluka
lebih dari yang ia sadari, Teuki hyung.”
“Hyukie, apa jawaban yang Kyuhyunie inginkan?
Bagaimana cara mengucapkannya?”
“Shi wo. Katakan shi wo. Kyuhyunie
menginginkan kepastian bahwa kita adalah miliknya, hyung. Ia kehilangan kepercayaan
akan hal itu saat ini.”
Kata-kata Eunhyuk kembali terngiang di
telinganya, membuat Leeteuk menghela napas panjang. Ia masih mengelus rambut
Kyuhyun yang tidak juga berubah posisi, tetap meringkuk sambil menahan sakit.
Ia tidak memanggil euisa, karena ia yakin Kyuhyun tidak memelukan pengobatan
medis saat ini.
“Kyuhyunie….”
Tak ada sahutan.
“Kyuhyunie, apa kau mendengarkanku?”
Kyuhyun tetap tidak menyahut.
Leeteuk akhirnya bangkit berdiri, untuk
kemudian berjongkok di sisi ranjang, sehingga matanya menjadi sejajar dengan
mata Kyuhyun yang tengah berbaring.
“Shi wo,” kata Leeteuk pelan sambil tetap
mengelus rambut Kyuhyun. Ia menjadi senang melihat bahu Kyuhyun menjadi tegang,
pertanda Kyuhyun mendengarkan ucapannya. Ketika Kyuhyun membuka mata dan
memandangnya, Leeteuk mencoba memberikan senyum terbaik yang ia miliki. “Shi
wo. Shi wo ni de Leeteuk. Nan ne-ggeo-ya, Kyuhyunie (Aku. Aku adalah
Leeteuk-mu. Aku adalah milikmu, Kyuhyunie).“
Mata Kyuhyun terbelalak. Wajahnya
memerah meski ia mencoba menyembunyikannya. Leeteuk membantu Kyuhyun yang
berusaha duduk di atas tempat tidur. Sepasang mata itu menatapnya lekat,
mencoba mencari kejujuran di sana.
"Apa yang Teuki hyung katakan?”
Nada suara yang bergetar itu membuat
Leeteuk ingin memeluk Kyuhyun, namun ia tahu Kyuhyun masih ragu. Bukan pelukan
yang diperlukan magnae-nya saat ini.
“Pertanyaanmu waktu itu… Ni shi..wo..
Leeteuk…???“ Leeteuk mulai kebingungan. Ia benar-benar lupa kalimat itu karena
Kyuhyun memandangnya tanpa berkedip.
“Ni shi wo de Leeteuk ma?”
“Ah!” Leeteuk memukulkan kedua
telapak tangannya dengan gembira. Ia tersenyum lebar ke arah Kyuhyun. “Shi wo.
Itu jawaban yang akan hyung berikan. Sampai kapanpun, Teuki hyung ini milikmu.”
“Zhen de ma? (benarkah?)”
“Jangan bertanya lebih dari itu.”
Wajah Leeteuk memelas. “Kau harus menunggu hyung bertanya kepada yang lain. Kau
bilang apa tadi? Zhen de….”
Kyuhyun tidak menjawab. Ia memeluk Leeteuk,
dan akhirnya menumpahkan semua perasaannya. Merasa bahunya hangat dan basah
oleh air mata Kyuhyun, Leeteuk pun ikut menangis. Dipeluknya magnae-nya itu
erat-erat dan mengelus rambutnya dengan sayang.
“Tutup mata, tutup telinga, bicaralah dengan
hati. Saat ini mungkin semua terlihat tidak benar, tidak bisa dipercaya. Tapi
hyung yakin, Hankyung-ah tetap memiliki perasaan sama seperti kita. Hyung minta
maaf tidak ada untuk menghiburmu saat itu. Hyung minta maaf tidak menyadari kau
tengah kecewa. Tapi Kyuhyunie, Hankyung-ah menjawabnya tanpa sekalipun berani
memandangmu. Ia tengah mengingkari perasaannya sendiri. Suatu saat, kita akan
tahu alasannya melakukan semua ini, arrachi?”
“Jeongmal?”
Leeteuk melepaskan pelukannya dan memandang
dengan bingung.
“Itu arti ‘zhen de ma’ tadi, hyung.” Kyuhyun
sedikit tersipu melihat Leeteuk mengangguk pelan, mencoba mencerna
kata-katanya.
Ketika keduanya keluar, semua member lain berdiri
tanpa mengucapkan apapun. Kyuhyun langsung menghambur memeluk Sungmin. Meski
wajah Kyuhyun masih tampak muram, Sungmin tahu Leeteuk berhasil membujuk
Kyuhyun kembali kepada mereka. Ia memeluk dongsaeng-nya itu erat-erat.
“Gomawo, Sungmin hyung,” ucap Kyuhyun pelan.
Ia yakin hyung-nya itulah yang memanggil Leeteuk, sehingga semua bebannya kini
bisa terangkat.
“Nah, Kyuhyunie, kebetulan kita semua berada
di sini dan sudah menunggumu sedari tadi. Apakah ada yang ingin kau katakan
atau tanyakan?” Shindong tersenyum lebar melihat wajah Kyuhyun tampak memerah
karena malu dengan keributan yang ditimbulkannya.
“Padahal, aku sudah berusaha tidak merepotkan
hyungdeul.” Kyuhyun mempoutkan mulutnya tanda protes dengan sikap over
protective hyungdeul.
“Lebih baik kau berterus terang, Kyuhyunie.” Ryeowook
tersenyum lembut.
“Ne. Kau membuat hyung meninggalkan nae
abeoji dan langsung kemari karena cemas. APPO!” Siwon meringis ketika Yesung
memukul kepalanya dengan keras.
“Jangan membuatnya semakin merasa bersalah!”
hardik Yesung. “Meski dia memang salah dan patut dipersalahkan atas
kesalahan-kesalahannya, tapi kau tidak boleh menambahkan daftar kesalahannya!
Arrachi?!”
Kyuhyun kali ini tak dapat menahan tawanya
melihat wajah Siwon yang tertegun kebingungan dan wajah Yesung yang merah
padam. Melihat Kyuhyun tertawa, member yang lain tersadar dan mulai ikut
mentertawakan kedua namja yang berbeda tinggi badan cukup jauh itu.
“Kyuhyunie, jangan mengalihkan perhatian,”
kata Eunhyuk saat tawa mereka semua reda akibat death glare yang dilayangkan
Yesung.
Kyuhyun memandang Leeteuk yang mengangguk
memberinya semangat. Ia pun menanyakan hal yang sama kepada semua hyungdeulnya.
Wajah Kyuhyun berseri mendengar jawaban-jawaban yang senada dengan Leeteuk.
“Neon nae
geoya (Kalian adalah milikku).” Kyuhyun bergumam senang. Namun sedetik kemudian
sebuah benda melayang ke arah kepalanya. Sambil mengaduh, Kyuhyun memandang ke
arah si pelempar. Ia terkejut melihat
sosok Heechul yang sedari tadi duduk memojok, tersembunyi dari pandangan
matanya. Kyuhyun tersenyum lebar menyadari Heechul kembali berkumpul bersama
mereka.
“Dasar
magnae tidak sopan! Gunakan kata-kata formal kepada hyungdeul-mu! Kau
seharusnya mengatakan dangsin-eun naui geos-ibnida.”
“Ah,
lagi-lagi nenek cerewet dari cerita Snow White.” Kyuhyun menghela napas dan
menggeleng dengan wajah prihatin.
“APA
KATAMU?” Heechul merangsek ke arah Kyuhyun.
Leeteuk,
Yesung, dan Ryeowook langsung menahan Heechul sementara Sungmin, Donghae dan
Eunhyuk mencoba membujuk Kyuhyun agar menghilangkan evil smirk-nya.
Shindong
berdiri diam, mengeluarkan HP dan mulai memotret.
Siwon
mendekati mood maker SJ itu dengan heran. “Kau sedang apa, hyung?”
“Memotret
untuk dikirim kepada Kibumie.”
“Aigoo,
hyung….”
Siwon hanya
bisa tersenyum pasrah melihat suasana di dorm
kembali ‘normal’.
END
Whoaaaaaa
akhirnya berhasil juga author membuat oneshoot
(*hiks…terharu)
#dilempar bakiak ama reader
Gomawo buat semua yang sudah bersedia membaca oneshoot pertamaku ini wkwkwkwk
(*seumur-umur kagak pernah bisa bikin cerpen)
ditunggu reviewnya (^_^)
Kamsahamnida
(*hiks…terharu)
#dilempar bakiak ama reader
Gomawo buat semua yang sudah bersedia membaca oneshoot pertamaku ini wkwkwkwk
(*seumur-umur kagak pernah bisa bikin cerpen)
ditunggu reviewnya (^_^)
Kamsahamnida
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment